Monday, November 21, 2016

Membangun Sarjana Teknik Secara Progresif Menuju Profesi Insinyur Berkualitas Dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)

Suhandi
http://cspanswick.wix.com/


           
        Masyarakat ekonomi ASEAN (MEA) merupakan pelaku ekonomi yang terlibat langsung dalam sistem  perdagangan bebas seperti barang dan jasa, investasi, aliran modal (dana) dan lain-lain. Negara-negara yang tergabung dalam MEA yaitu Indonesia, Thailand, Malaysia, Singapura, Filipina, Brunei Darussalam, Vietnam, Laos, Myanmar dan Kamboja. Negara-negara tersebut akan berkompetisi dengan saling mengunggulkan sumber daya manusia (SDM) dan sumber daya alam (SDA) yang mereka miliki. Saat ini sumber daya manusia yang menjadi  pusat perhatian penting negara-negara ASEAN termaksud Indonesia adalah tenaga kerja profesional dalam hal ini adalah insinyur. 

          Persatuan Insinyur Indonesia (PII) (2016) menyatakan bahwa insinyur adalah orang  yang  melakukan  rekayasa teknik dengan menggunakan ilmu  pengetahuan  untuk  meningkatkan nilai tambah barang dan jasa demi kesejahteraan umat manusia. Berdasarkan data PII bahwa saat ini Indonesia memiliki penyandang  IP (Insinyur  Profesional) 9.000 orang.  Namun IP-Madya (IPM)  yang diakui setara internasional hanya sekitar 2.000. Adapun jumlah Profesional Engineer (PE) dari negara ASEAN berkisar dari  yang terbanyak yaitu Thailand dengan 23.000 PE,  Philipina 14.250 PE, Malaysia 11.170 PE, serta Singapura 3.490 PE. Jumlah PE (IPM) kita yang 2.000 jelas masih sedikit jika dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya

    Kurangnya kuantitas insinyur Indonesia, membuat insinyur asing berkeinginan untuk bekerja di sektor-sektor industri dan infrastruktur yang ada di Indonesia. Secara langsung akan terjadi persaingan antara insinyur lokal dan insinyur asing. Apabila insinyur Indonesia tidak dapat meningkatkan kualitas diri dengan kuantitas yang minim maka secara otomatis insinyur-insinyur asing akan mendominasi lapangan pekerjaan yang ada di Indonesia. Adapun sebab calon sarjana teknik Indonesia tidak memiliki kualitas mumpuni umumnya dikarenakan pembelajaran yang diperoleh di bangku perkuliahan lebih banyak berorientasi pada pembelajaran yang bersifat teoritis. Adapun pembelajaran yang bersifat praktik sangat jarang ditemui. Oleh karena itu transformasi metode pembelajaran sangat diperlukan. 

      Metode pembelajaran yang hingga kini diterapkan masih belum efisien untuk dapat meningkatkan kualitas mahasiswa teknik di Indonesia dalam menghadapi negaranegara ASEAN. Penggunaan metode pembelajaran yang diterapkan masih berupa penilaian berdasarkan pengetahuan mahasiswa dengan melakukan ujian berupa teori dan jawaban. Dengan metode seperti itu umumnya mahasiswa hanya akan mengutamakan hasil berupa nilai yang diperoleh setelah ujian daripada proses yang dijalani selama perkuliahan. Mahasiswa pun cenderung untuk lebih memahami teori-teori demi keberhasilan ujian tanpa tahu dan mampu untuk merealiasikannya. Hal tersebut terjadi tanpa disadari dikarenakan hasil dari sistem yang diterapkan. Padahal mahasiswa dengan disiplin ilmu keteknikan sangat identik dengan kemampuan untuk mencipta.

             Sejarah membuktikan bahwa sudah banyak negara seperti Jepang, Jerman, Rusia, Amerika mencetak insinyur-insinyur hebat yang sangat berperan penting dalam perkembangan teknologi sehingga menjadi era moderen seperti sekarang ini. Dari beberapa negara tersebut Jerman merupakan salah satu negara yang terkenal dengan insinyurnya yang berkualitas dan berkualifikasi tinggi. Hal tersebut tidak lain dikarenakan metode pembelajaran yang mereka gunakan. Sato et al (2008) menyatakan bahwa metode pembelajaran yang digunakan pendidikan teknik di Jerman umumnya mahasiswa dinilai dengan beberapa ujian lisan berdasarkan pemahaman mereka. Dengan orientasi berdasar pada pemhamaman maka mahasiswa teknik di Jerman dituntut agar tidak hanya menguasai teori-teori yang diajarkan di bangku perkuliahan melainkan juga harus mampu untuk merealisasikannya. Sehingga antara teori dan praktik dapat berjalan bersama secara seimbang. 

         Dalam mengatasi kesenjangan antara teori dan praktik diperlukan kolaborasi antara universitas atau institut yang memiliki bidang ilmu keteknikan di Indonesia dengan perusahaan negeri maupun swasta. Tujuannya agar mahasiswa dapat menyiapkan dan mempelajari lebih awal ilmu-ilmu yang nantinya dibutuhkan di dunia pekerjaan. Kolaborasi yang dapat dilakukan yaitu memberikan kesempatan mahasiswa untuk magang di perusahaan, kesempatan untuk menjalankan proyek perusahaan, menjadikan mahasiswa sebagai problem solver perusahaan, dan juga  kunjungan perusahaan ke universitas-universitas. Dalam pemilihan mahasiswa yang ikut andil berkolaborasi harus dilakukan secara selektif. Dengan pola perekrutan yaitu mahasiswa diberikan tes untuk mengetahui sejauh mana pemahaman mereka mengenai perusahaan yang mereka tuju. Selain itu, mereka juga harus menuliskan gagasan kreatif dan inovatif yang nantinya dapat direalisasikan perusahaan.

       Kolaborasi akan menguntungkan kedua bela pihak. Apabila perusahaan berperan sebagai fasilitator dengan memberikan bantuan finansial, tempat, maupun perlengkapan yang dibutuhkan kepada mahasiswa yang telah memenuhi segala kriteria perekrutan kolaborasi maka perusahaan akan memperoleh keuntungan. Keuntungan tersebut diperoleh dari hasil tulisan yang dapat berupa pengembangan produk perusahaan, pembaruan mesin yang efisien, sumber energi terbarukan, perancangan infrastruktur agar lebih ekonomis dan lain sebagainya. Jika itu direalisasikan maka akan memberikan dampak pada peningkatan kinerja dan keuntungan perusahaan.  Di sisi lain mahasiswa pun mendapatkan kesempatan untuk merasakan pengalaman di dunia kerja, gagasan dan ide yang dimiliki dapat terealisasikan melalui wadah yang tepat dan dapat bertemu dengan orang-orang yang sudah berkompeten dibidangnya. 

         Di samping kolaborasi antara universitas dan perusahaan diperlukan juga kolaborasi anatara perusahaan dengan Persatuan Insinyur Indonesia sebagai lembaga yang mewadahi program profesi insinyur. Seperti yang tercantum pada pasal 8 ayat (1) menyatakana bahwa program profesi insinyur diselenggarakan oleh perguruan tinggi bekerja sama dengan kementerian terkait, PII, dan kalangan industri dengan mengikuti standar program profesi insinyur. Badan Kejuruan Mesin PII (2016) menyatakan bahwa sertifikat insinyur profesional diberikan dalam tiga jenis, yang sekaligus juga menunjukkan jenjang kompetensi yang dimilikinya. Pertama adalah Insinyur Profesional Pratama, yaitu para insinyur yang sudah bekerja lebih dari tiga tahun sejak mencapai gelar kesarjanaannya dan sudah mampu membuktikan kompetensi keprofesionalannya. Kedua adalah Insinyur Profesional Madya, yaitu para pemegang sertifikat Insinyur Profesional Pratama yang sudah bekerja dan membuktikan kompetensinya selama paling sedikit lima tahun setelah ia memperoleh sertifikat Insinyur Profesional Pratama. Terakhir adalah Insinyur profesional Utama, yaitu para pemegang sertifikat Insinyur Profesional Madya yang telah bekerja dan membuktikan kompetensinya selama paling sedikit delapan tahun setelah ia memperoleh sertifikat Insinyur Profesional Madya, serta mempunyai reputasi keprofesionalan secara nasional. Melalui kolaborasi antara PII dan perusahaan maka para sarajana teknik dapat selalu dibimbing dalam peningkatan kualitas yang bukan hanya dilakukan saat menyandang calon sarjana teknik melainkan juga setelahnya. Tujuannya agar para sarjana teknik yang mengikuti program profesi insinyur benar-benar sudah memiliki kualifikasi standar keinsinyuran yang mumpuni. 

          Jadi dapat disimpulkan bahwa dalam meningkatkan kualitas sarjana teknik di Indonesia diperlukan langkah yang progresif melalui kolaborasi antara universitas, perusahaan dan PII sesuai amanat pasal 8 ayat (1). Saat masih menyandang gelar calon sarjana teknik para mahasiswa harus dibekali dengan magang di perusahaan. Dengan tujuan agar mahasiswa tidak hanya berorientasi pada pembelajaran yang bersifat teoritis tapi juga mampu untuk merealisasikannya melalui wadah yang tepat. Setelah mahasiswa menyandang gelar sarjana teknik maka langkah selanjutnya adalah memperoleh gelar keinsinyuran. Gelar tersebut dapat diperoleh apabila sudah memiliki pengalaman pekerjaan terlebih dahulu oleh karena itu kolaborasi antara perusahaan dan PII sngat diperlukan. PII bersama dengan perusahaan dapat selalu memantau para insinyur dalam proses peningkata kualitasnya baik saat menyandang gelar calon sarjana teknik maupun setelahnya. Apabila hal tersebut dapat dijalankan secara optimal maka insinyur-insinyur Indonesia dapat bersaing dengan negara ASEAN lainya dan lapangan pekerjaan di Indonesia pun akan didominasi oleh insinyur lokal itu sendiri. 




Daftar Pustaka

Badan Kejuruan Mesin Persatuan Indonesia. 2015. Insinyur Profesional. http://www.kompasiana.com/bkmpii/sertifikasiinsinyur-profesional_55286036fl7e61ab448b45d4. 2 Septembe 2016

Persatuan Insinyur Indonesia. 2016. Engineer Weekly. http://pii.or.id/engineerweekly. 22 Agustus 2016

Sato, Takashi. et. al. 2008 Differences of Engineering Education Systems Between Japan and Germany Consideration About "before and after garduation" https;//smartech.gatech.edu/bitstream/handle/1853/24451/179.pdf. 29 Agustus 2016

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2014 tentang keinsinyuran. 22 Maret 2014. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 61. Jakarta.








   



            

 

  



Tuesday, May 31, 2016

Konfrensi Pemuda sebagai Solusi Awal Pembentukan Komunitas Pemberdayaan Anak Jalanan melalui Pendidikan

Suhandi

http://tango.image-static.hipwee.com/

Indonesia adalah salah satu negera dengan penduduk terbesar di dunia, walaupun memiliki banyak penduduk, Indonesia memiliki kulalitas sumber daya manusia yang relatif rendah. Hal itu dikarenakan kurangnya pendidikan penduduk Indonesia, padahal pendidikan menjadi suatu kebutuhan bagi setiap warga negara. Pendidikan mampu mengubah pola pikir dan kualitas hidup seseorang menjadi lebih baik. Selain bepengaruh pada invidu, tidak dipungkiri bahwa pendidikan menjadi aset penting dalam pembangunan sebuah negara. Pendidikan merupakan transmisi nilai, pengetahuan, dan keterampilan sehingga dengannya dapat menghasilkan sumber daya manusia yang mumpuni dan berkualitas. Sumber daya manusia yang berkualitas akan mampu mengembangkan potensi negara dengan optimal.

         Pendidikan begitu penting bagi seseorang, tetapi tidak semua orang dapat merasakanya salah satunya adalah anak jalanan. Di Indonesia saat ini diperkirakan terdapat 50.000 anak bahkan mungkin lebih, yang menghabiskan waktu yang produktif di jalanan (Pardede, 2008). Maraknya anak jalanan akan menghmbat proses pembangunan nasional jika mereka tidak menadaptkan pendidikan sedini mungkin. Dengan tidak memperoleh pendidikan akan mengakibatkan rendahnya sumber daya manusia berkualitas, angka pengganguran semakin tinggi, rantai kemiskinan tidak akan terputus dan lain sebagainya. Sementara itu, anak jalanan di Indonesia setiap tahunnya selalu meningkat.
       
       Lukemeyer (dalam Calara, 2012) banyak hal yang mempengaruhi anak untuk bekerja dijalanan seperti faktor ekonomi, kesehatan, gizi anak, pola interaksi orang tua-anak, aspirasi orangtua terhadap masa depan anak, kekerasan yang dialami anak, pola asuh, dan sebagainya. Secara umum, pendapat yang berkembang dimasyarakat mengenai anak jalanan adalah anak-anak yang berada dijalanan untuk mencari nafkah dan menghabiskan waktu untuk bermain, tidak bersekolah, dan kadang kala ada pula yang menambahkan bahwa anak-anak jalanan mengganggu ketertiban umum dan sering melakukan tindak kriminal (Terloit, 2001). Adanya pandangan seperti ini akan berpengaruh terhadap terbentuknya konsep diri yang negatif pada diri anak jalanan. Mereka akan beranggapan bahwa mereka tidak layak diterima dimasyarakat dan tidak akan mempunyai masa depan yang lebih baik lagi.

Mengatasi masalah anak jalanan yang tidak memperoleh pendidikan bukan hanya kewajiban pemerintah, namun juga diperlukan peran aktif dari seluruh lapisan masyarakat. Masalah tidak akan selesai jika hanya diselesaikan sendiri oleh pemerintah tanpa dukungan dan kontribusi dari masyarakat Indonesia sendiri. Salah satu peran penting dari lapisan masyarakat  adalah  peran  para pemuda. Pemuda adalah agen perubahan dalam memecahkan masalah dengan berbagai ide yang inovotif serta pola pikir mereka yang kritis, pemuda sangat berperan penting dalam pembangunan nasional suatu negara sebagaimana yang dikatakan oleh Ir. Soekarno, “Beriaku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”.

        Sesuatu yang harus dilakukan pemuda adalah bertindak nyata melalui pergerakan kepemudaan dalam mengatasi pendidikan anak jalanan, untuk itu diperlukan berbagai kiat-kiat dalam mencapai tujuan tersebut. Konferensi pemuda Indonesia adalah salah satu langkah awal pergerkan kepemudaan dengan mengumpulkan berbagai pemuda diseluruh Indonesia untuk membahas isu-isu mengeni anak jalanan di daerah masing-masing. Dalam pemilihan pemuda untuk menggikuti konfrensi pemuda tidak dilakukan secara serta-merta melainkan harus dilakukan seleksi terlebih dahulu. Seleksi yang dilakukan berupa perlombaan menulis mengenai masalah dan solusi permasalahan pendidikan anak jalanan di daerah mereka masing-masing sehingga pemuda-pemuda yang menggikuti konfrensi tersebut benar-benar mempunyai visi dan misi sesuai yang diharapkan dan dapat meberdayakan anak jalanan melalui pendidikan non formal di daerah mereka masing-masing.

         Konfrensi pemuda akan menghasilkan Pergerakan kepemudaan untuk mebentuk suatu komunitas pemberdayaan anak jalanan melalui pendidikan disetiap daerah seluruh Indonesia nantinya. Pembentukan suatu komunitas harus memerlukan program tujuan pembelajran yang memiliki urutan yang sistematis, Nicholls (1976) mengatakan bahwa  dalam merancang program pengajaran ada lima komponen penting yang harus dipertimbangkan, yaitu 1) tujuan yang hendak dicapai dari proses belajar mengajar yang dirancang, 2) karakteristik pembelajar, 3) proses belajar-mengajar yang mencakup metode, materi atau bahan belajar dan penggunaan media, 4) hasil yang dicapai dari proses belajar-mengajar yang dilaksanakan, dan 5) evaluasi  baik kepada siswa maupun tutor (pemuda), sebagai umpan balik atas pencapaian tujuan dari proses belajar-mengajar yang telah dilaksanakan.  

        Clara (2012) mengatakan bahwa dalam merancang program pendidikan anak jalanan diperlukan tiga komponen dasar, yaitu pengetahuan umum, keterampilan vokasional dan keterampilan hidup. Materi belajar dalam komponen pengetahuan dasar, adalah Bahasa Indonesia, Sejarah, Matematika dan Pendidikan Kewarganegaraan. Dalam komponen keterampilan vokasional diberikan kursus mengelas, menjahit, melukis, kerajinan tangan, perbengkelan, menyupir dan komputer. Sedangkan dalam komponen keterampilan hidup, anak dibekali dengan pengetahuan mengenai hidup sehat dan penyalahgunaan obat

       Ketiga komponen tersebut sangat cocok dipelajari untuk anak jalanan karena sangat membantu dalam kegiatan sehari-hari mereka dijalanan. Belajar matematika dapat membantu anak jalanan untuk menghitung uang agar mereka tidak ditipu lagi oleh orang dewasa dan majikan mereka. Sedangkan belajar Pendidikan Kewarganegaraan dapat meberikan pemahaman kepada anak mengenai pemilu dan hak setiap warga negara, hal tersebut dikarenakan anak jalanan sering menjadi korban ikut kegiatan kampanye sehingga mereka sering berkelahi karena harus mebela kubu masing-masing. Selain itu, dengan diberikan pendidikan kursus mengelas, menjahit, melukis, kerajinan tangan, perbengkelan, menyupir dan komputer, dapat meberikan keterampilan hidup bagi anak agar mereka dapat memperoleh pekerjaan yang lebih layak lagi ketimbang harus bekerja di jalanan. Kondisi lingkungan yang buruk juga membuat anak sering mengalami gangguan kesehatan. Anak jalanan sering menggunakan obat-obat terlarang dan berhubungan seksual dengan anak jalanan lainya sehinga diperlukan pengetahuan mengenai hidup sehat dan penyalahgunaan obat-obat terlarang.

           Selain memberikan pengetahuan mengenai ketiga komponen dasar tersebut pemuda juga harus mencari solusi agar anak jalanan yang putus sekolah dasar dapat mengikuti program pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah, untuk kemudian memperoleh ijazah yang disetarakan dengan tingkat sekolah dasar untuk program paket A, dan ijazah sekolah menengah pertama untuk program paket B (Clara, 2012). Melalui kmountias pemberdayaan anak jalanan, pemuda dapat memebrikan pelajaran-pelajaran yang berkaitan mengenai program paket A dan B kepada anak jalanan, agar nantinya mereka dapat mengikuti ujian program paket A dan B. Pemerintah juga mengambil bagian penting untuk menangani masalah tersebut, dengan cara memberikan pengakuan kesetaraan ijazah yang dikeluarkan dari program paket A dan B oleh sekolah formal agar kelak anak jalanan dapat mudah untuk mencari pekerjaan.

      Euanggelion dan Dewi mengatakan (dalam Clara ,2012) bahwa untuk memfasilitasi perkembangan psikososial anak jalanan, adalah dengan memberikan kesempatan pada mereka untuk dapat mengekspresikan kreatifitas mereka melalui sanggar-sanggar kesenian. Dengan diberi kesempatan untuk tampil di berbagai acara dan mendapat apresiasi terhadap kreatifitas mereka, maka mereka dapat mengembangkan rasa percaya diri sebagai dasar dari berkembangnya kesejahteraan psikologis mereka. Melalui komunitas pemeberdayaan anak jalanan pemuda juga harus mengajukan keputusan mereka kepada pemerintah di daerah masing-masing mengenai pemberdayaan anak jalanan, untuk menindaklanjuti kegiatan mereka berupa dukungan dan bantuan dana dari pemerintah. Dengan adanya kerja sama dari berbagai pihak baik itu pemuda, masyarakat, dan pemerintah maka pemberdayaan anak jalanan melalui pendidikan dapat berjalan dengan  baik. Keitka itu dilaksanakan secara maksimal maka akan memperkecil kuantitas anak jalanan dan dapat meningkatkan taraf hidup mereka sehingga dapat menciptakan manusia-manusia berkulitas untuk kemajuan bangsa Indonesia.



















Daftar Pustaka

Ajisuksmo, Clara R.P. 2012. Faktor-Faktor Penting Dalam Merancang Program Pendidikan Luar Sekolah Untuk Anak Jalanan Dan Pekerja Anak”. Jurnal Makara Sosial Humaniora. Vol. 16, No. http://hubsasia.ui.ac.id/index.php/hubsasia/article/download/1466/35. 10 Desember 2015.

Nicholls, A & Nicholls, S.H. (1976). Developing a Curriculum: A practical guide. London: George Allen & Unwin Ltd.

Terloit, A.J. 2001 Konsep diri anak jalanan usia remaja yang mengalami
abuse dan tidak mengalami abuse Skripsi (Tidak Diterbitkan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Depok.

Pardede, Y.O.K. 2008. Konsep Diri Anak Jalanan Usia Remaja. Jurnal Psikologi. Volume 1, No. 2, http://ejournal.gunadarma.ac.id/index.php/psiko/article/download/292/235. 10 Desember 2015.





              
.