Friday, April 14, 2017

TERMARJIRNALKAN

Suhandi
TERMARJIRNALKAN


Semakin maju sebuah kota tidak menutup kemungkinan bahwa masyarakatnya akan semakain baik pula. Salah satunya adalah Kota Makasar yang mana masih banyak bisa kita temukan pengemis dengan memakai mobil-mobilan beroda dengan  tidak mempunyai sebuah kaki.
Mungkin sebagian orang akan berkata bahwa hal tersebut hanyalah rekayasa agar mereka mudah memperoleh rejeki dengan memanfaatkan kekuranganya. Ya, memang hal tersebut ada benarnya juga. Sayapun kerap kali menemukannya, waktu itu ketika sedang berkendara motor di jalan perintis kemerdekaan Makassar seorang ibu-ibu memakai mobil-mobilan beroda tetapi toh kakinya masih utuh, entalah mungkin meminta-minta sudah menjadi sebuah profesi di Kota Makassar. Tapi dibalik itu semua ada juga pengemis yang benar-benar kehilangan kakinya dan sayapun menjadi saksinya kerap kali melihatnya.
Saya bertemu tidak lain karena saya mengikuti sebuah komunitas sosial selama setahun lebih. Komunitas yang tempatnya berada di tengah-tengah pengemis yang tidak mempunyai sebuah kaki tersebut. Komunitas tesebut adalah Aksi Indonesia Muda, Komunitas ini bergerak di bidang pemberdayaan masyarakat dan pendidikan informal di kampung kusta jongaya. Ya, sebuah masyarakat termarjinalkan di tengah-tengah yang katanya kota dunia. Mereka termarjinalkan dikarenakan stigma yang berangapan di masyarakat bahwa penyakit kusta akan dengan mudah menular. Hal tersebut tentu sangat berdampak disegala aspek sosial mereka, seperti sulitnya mencari pekerjaan seperti orang pada umumnya.

Aksi Indonesia Muda dengan bidang pendidikan seiap akhir pekan mengajarkan anak-anak kampung tersebut mengenai menjaga kebersihan, kesehatan, dan makanan. Hal ini menjadi salah satu topik pelajaran penting dikarenakan penyebab penyakit kusta adalah kuman. Di mana kuman ini disebabkan karena kebersihan diri dan lingkungan yang tidak terjaga.  Selain itu kami tidak luput juga untuk mengajarkan pengetahuan agama maupun matematika. Proses pendidikan yang diajarkan dalam bentuk pendidikan informal dengan lebih  mengutamakan pengembangan kepribadian dibandingkan intelektual.
Di bidang pemberdayaan kami melalakukan berbagai macam pembuatan produk seperti jilbab, bros, lampu hias. Dengan pekerjanya adalah pengemis/masyarakat kusta itu sendiri, sementara Aksi Indonesia Muda berperan menyiapkan bahan-bahan dan membantu proses pemasaran. 
Pemerintah kota Makassar sebenarnya telah memberikan bantuan dana berupa uang sebesar Rp 125.000/Bulan untuk setiap orang yang mengalami penderita kusta. Tetapi menurut warga sekitar uang yang diberikan tersebut masih belum membantu sama sekali. Apalagi harus membiayai anak mereka sekolah. Oleh karena itu dengan berat hati mereka harus membwa anaknya untuk mengemis dibandingkan untuk sekolah karena untuk kehidupan sehari-hari saja mereka tidak mencukupi.
Suatu ketika saya bercerita dengan salah satu masyarakat di kampung kusta, dia berkata bahwa pemerintah telah melarang mereka untuk mengemis tetapi uang yang diberikan belum cukup memenuhi kebutuhan mereka. Lapangan pekerjaan pun tidak diberikan kepada mereka sehingga dengan terpaksa mereka mengemis. Seharusnya masalah ini dapat menjadi perhatian pemerintah agar dapat mengurangi kuantitas pengemis dan penganguran di Kota Makassar. Pemberian lapanagna pekerjaan yang layak beserta pembinaan yang intens saya rasa akan sangat membantu masyarakat kusta tersebut.
Itulah beberapa sedikit kegiatan Aksi Indonesia muda, semenjak memasuki komunitas ini saya belajar banyak hal, yang paling penting adalah pelajaran tentang bersyukur. Saya tidak bisa membayangkan apabila berada diposisi mereka. Hari ini mungkin banyak mahasiswa yang berkoar-koar tentang ketidakadilan pemerintah, tapi yang menjadi pertanyaan apakah semua harus diselesaikan oleh pemerintah sendiri, apakah yang sudah kita sudah buat untuk membantu pemerintah, saya kira pertanyaan itu hanya bisa dijawab oleh diri kita sendiri sendiri. 
"Setiadaknya di sini ada lilin kecil yang bisa kita nyalakan, kami percaya suatu saat nanti lilin-lilin kecil itu akan berkumpul dan membuat negeri ini benar-benar terang."

 




Thursday, April 13, 2017

KENAPA IDEOLOGI PANCASILA TIDAK BISA MENJADIKAN INDONESIA NEGARA MAJU ?

Suhandi
KENAPA IDEOLOGI PANCASILA TIDAK BISA MENJADIKAN
INDONESIA NEGARA MAJU ?

Itulah salah satu pertanyaan yang dilontarkan kepada kami saat diskusi mengenai kewarganegaraan berlangsung, pertanyaan yang menarik untuk dijawab. 

Negara maju merupakan negara yang mempunyai sumber daya manusia yang mumpuni dalam hal ini adalah kemampuan untuk menerapkan ilmu pengetahuan yang dimiliki dalam membangun negaranya sehinga memiliki standar hidup yang tinggi dan perekoniman yang merata

Proses perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia sendiri terbilang lambat, diabad 16, 17, dan 18 bangsa-bangsa Eropa telah melakukan berbagai macam riset pengembangan ilmu pengetahuan sedangkan Indonesia baru mengenal ilmu pengetahuan diakhir abad ke 19, proses lahirnyapun disajikan oleh bangsa-bangsa asing melalui penjajahan. Sehingga dalam proses perkembanganya tidak terlepas dari campur tangan asing, hal tersebut menjadikan pengelolaan sumber daya alam pada akhir abad ke 19 hingga saat ini masih saja dikuasai oleh asing.

Nah, kenapa ideologi pancasila tidak bisa menjadikan Indonesia negara maju ?
Jawabannya adalah Indonesia pada dasarnya terlambat mengenal yang namanya ilmu pengetahuan, sedangkan pancasila adalah pedoman dasar agar pengetahuan yang diperoleh dapat dimanfaatkan dengan bijaksana dan sesuai norma-norma yang berlaku di Indonesia. Pancasila bukan menjadi alasan mendasar berkembang atau majunya Negara Indonesia tetapi pancasila berperan sebagai alaram untuk menfilter segala ilmu pengetahuan dan paham yang masuk ke Indonesia.

Berdasarkan uraian di atas tidak menutup kemungkinan Indonesia menjadi negara maju asalkan kemandirian bangsa ini harus dimulai sejak dini, agar liberalisme dan kapitalisme tidak menyebar secara kolektif di Negara Indonesia tercinta.